Kenapa Menganyamkan Jari Jemari (Tasybik) Ketika Menunggu Sholat atau Setelah Sholat Itu Dilarang?

- Redaksi

Senin, 30 Desember 2024 - 20:20 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

๐Ÿ™ Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Apa betul mengayamkan jari jemari itu ketika menunggu waktu sholat atau setelahnya dilarang oleh nabi sendiri? Terkadang banyak orang yang menjadi hati-hati setelah membaca dari hadis yang telah nabi sampaikan terkait larangan tersebut, bahkan ada beberapa orang awam memahami hukum dari hadis tersebut adalah haram. Berdasarkan hadis yang mereka baca itu yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasul SAW bersabda,

ุฅูุฐูŽุง ุชูŽูˆูŽุถู‘ูŽุฃูŽ ุฃูŽุญูŽุฏูŽูƒูู…ู’ ูููŠู’ ุจูŽูŠู’ุชูู‡ู ุซูู…ู‘ูŽ ุฃูŽุชูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุฑู’ุฌูุนูŽ ููŽู„ูŽุง ูŠูŽูู’ุนูŽู„ู’ ู‡ูŽูƒูŽุฐูŽุง ูˆูŽุดูŽุจู‘ูŽูƒูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฃูŽุตูŽุงุจูุนูู‡ู

Artinya: โ€œJika salah seorang di antara kalian berwudhu di rumah, kemudian berangkat ke masjid, maka dia dalam kondisi shalat sampai dia kembali (lagi ke rumah). Maka janganlah melakukan hal ini.โ€ Dia pun mengayamkan jari-jemarinya (tasybik).โ€œ (Imam Ad-Darimi, nomor hadits 1404)ย  dan (Al-Hakim, nomor hadits 774) , dan hadits ini berstatus shoheh.

Memang dari hadis diatas terdapat larangan dari nabi sendiri tidak boleh Tasybik tersebut. Bahkan hadis diatas dikuatkan lagi oleh riwayat Abu Tsumamah Al- Hannath RA:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ูƒูŽุนู’ุจูŽ ุจู’ู†ู ุนูุฌู’ุฑูŽุฉู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ูŠูุฑููŠู’ุฏู ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏูŽ ุฃูŽุฏู’ุฑูŽูƒูŽู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏูู‡ูู…ูŽุง ุตูŽุงุญูุจูŽู‡ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ููŽูˆูŽุฌูŽุฏูŽู†ููŠ ูˆูŽ ุฃูŽู†ูŽุง ู…ูุดูŽุจู‘ููƒูŒ ุจููŠูŽุฏูŽูŠู‘ูŽุŒ ููŽู†ูŽู‡ูŽุงู†ููŠ ุนูŽู†ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฅูู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽ ุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฅูุฐูŽุง ุชูŽูˆูŽุถู‘ูŽุฃูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ููŽุฃูŽุญู’ุณูŽู†ูŽ ูˆูุถููˆู’ุกูŽู‡ูุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ุฎูŽุฑูŽุฌูŽ ุนูŽุงู…ูุฏู‹ุง ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ููŽู„ูŽุง ูŠูุดูŽุจู‘ููƒูŽู†ู‘ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ูููŠ ุตูŽู„ูŽุงุฉู

Artinya :โ€œBahwasannya Kaโ€™b bin โ€˜Ujrah bertemu dengannya saat ia hendak pergi ke masjid. Mereka saling bertemu waktu itu. Kaโ€™b melihatku sedang mengayamkan jari-jemariku (tasybรฎk), kemudian ia melarangku dan berkata: โ€œSesungguhnya Rasulullah shallallรขahu โ€˜alaihi wa sallam pernah bersabda: โ€˜Apabila salah seorang diantara kalian wudhu, membaguskan wudhunya, kemudian pergi menuju masjid; maka janganlah ia mengayamkan jari-jemarinya (tasybik). Sesungguhnya ia dalam keadaan shalatโ€ (HR. Imam Tirmidzi, nomor hadits 386)ย  dan (diriwayatkan juga oleh Albani pada kitabnya). Yakni hadits ini Shahih oleh Imam Albani.

Dan jika kita merujuk kepada hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, mungkin inilah yang membuat orang awam menjadi cemas akan melakukan tasbik itu di dalam ibadah, yaitu

ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชู ู†ูŽุงููุนู‹ุงุŒ ุนูŽู†ู’ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠุŒ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู…ูุดูŽุจู‘ููƒูŒ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ : ุชูู„ู’ูƒูŽ ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุบู’ุถููˆู’ุจู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’

Artinya: โ€œAku bertanya kepada Nรขfiโ€™ tentang seorang laki-laki yang mengayamkan jari-jemarinya (tasybรฎk) ketika sedang melaksanakan shalat? Maka ia berkata: telah berkata Ibnu โ€˜Umar: โ€œItu adalah cara shalat orang-orang yang dimurkai oleh Allah.โ€ (HR. Abu Dawud, nomor haditsย  993)ย  dan hadits ini shahih oleh Albani pada kitabnya โ€œShahih wa Dhaiโ€™if Sunan Abi Dawudโ€.

Sebenarnya hadis-hadis diatas itu muncul diakibatkan seseorang itu melakukan hal yang sia-sia ketika sedang menunggu sholat atau setelah sholat. Dizaman Nabi, para sahabat itu terkadang suka melakukan hal yang sia-sia seperti tasybik tersebut. Nabi sebenarnya menginginkan kita para hambanya untuk melakukan zikir selalu ketika berada di mesjid, baik itu setelah ataupun sebelum sholat akan dilakukan, kalau seseorang itu sudah menjadi kebiasaan nya tasybik tersebut, maka seseorang tersebut tidak tertimpa larangan tersebut atau hukum tersebut.

Adapun mengayamkan jari-jemari tersebut, itu melambang seseorang tersebut lagi memikirkan sesuatu hal, yang mana pikirannya tersebut kosong/banyak hingga tidak lagi memfokuskan diri lagi kepada allah SWT.

Dan terkait hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar disana, yang dimaksudkan sesat (ุงู„ู…ุบุถูˆุจ) oleh beliau tersebut, yaitu melakukan tasybik tersebut sedang sholat, bukan setelah atau sebelum sholat. Hal inilah yang dimaksud oleh Umar, dan tasybik bukanlah gerakan sholat yang diajarkan oleh Nabi SAW, dan itu menambah gerakan-gerakan sholat. Sebagaimana hadis yang telah Nabi sampaikan kepada kita semua, dengan hadis yang mutawattir, yaitu:

ุตูŽู„ู‘ููˆู’ุง ูƒูŽู…ูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูู…ููˆู’ู†ููŠ ูฑุตูŽู„ู‘ููŠ (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)

Artinya :โ€œShalatlah kalian (dengan cara) sebagaimana kalian melihatku shalat.โ€ [HR. Bukhari, no. 628]

Dan perlu diperhatikan juga sebenarnya ulama terdahulu sudah memberi batasan pada tasybik tersebut, seperti yang difatwakan oleh Ismail pada kitab )Al- Hawi Lil Fatawa pada juz 2( yaitu,

ูˆูŽุฌูŽู…ูุนูŽ ุงู„ู’ุฅูุณู’ู…ูŽุงุนููŠู’ู„ููŠู’ ุจูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠูŽ ู…ูู‚ูŽูŠู‘ูุฏูŒ ุจูู…ูŽุง ุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ย ูููŠ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ุฃูŽูˆู’ ู‚ูŽุงุตูุฏู‹ุง ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุŒ ุฅูุฐู’ ู…ูู†ู’ุชูŽุธูุฑู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ูููŠ ุญููƒู’ู…ู ุงู„ู’ู…ูุตูŽู„ููŠ

Artinya: โ€œMenurut Ismail larangan tasybik adalah terbatas pada ketika melakukan sholat atau akan melakukan sholat karna orang yang menunggu sholat itu hukumnya sama dengan orang yang sholat dan menurut kebanyakan ulamaโ€

Jadi tasybik itu boleh dilakukan diluar pekerjaan ibadah sholat seperti yang disampaikan oleh Ismail tersebut, sebenarnya pada hadis lain pun nabi juga pernah melakukan tasybik itu, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al- Asโ€™ariy yaitu,

ย ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ู†ู‘ูŽุจููŠ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽ ุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ( ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽ ู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ู ูƒูŽุงู„ู’ุจูู†ู’ูŠูŽุงู†ู ูŠูŽุดูุฏู‘ู ุจูŽุนู’ุถูู‡ู ุจูŽุนู’ุถู‹ุง) ูˆูŽ ุดูŽุจู‘ูŽูƒูŽ ุฃูŽุตูŽุงุจูุนูŽู‡ู

Artinya : โ€œtelah menceritakan kepada kami Khallad bin Yahya berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Burdah bin Abdullah bin Abu Burdah dari Kakeknya dari Abu Musa dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda: Sesungguhnya seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.โ€œ kemudian beliau mengayamkan jari jemarinya. (HR. Imam Bukhari, nomor hadits 481).

Dan ada juga hadis yang nabi sendiri memiliki kebiasaan dalam tasybik tersebut, hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah,

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุตูŽู„ู‰ ุจูู†ูŽุง ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽ ุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅูุญู’ุฏูŽู‰ ุตูŽู„ูŽุงุชููŠ ุงู„ู’ุนูุดููŠูู‘ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ุณููŠู’ุฑููŠู’ู†ูŽ ุณูŽู…ู‘ูŽุงู‡ูŽุง ุฃูŽุจููˆ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ู†ูŽุณููŠู’ุชู ุฃูŽู†ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุจูู†ูŽุง ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุซูู…ู‘ูŽ ุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽู‚ูŽุงู…ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฎูŽุดูŽุจูŽุฉู ู…ูŽุนู’ุฑููˆู’ุถูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ููŽุงุชู‘ูŽูƒูŽุฃูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุบูŽุถู’ุจูŽุงู†ูย  ูˆูŽูˆูŽุถูŽุนูŽ ูŠูŽุฏูŽุงู‡ู ุงู„ู’ูŠูู…ู’ู†ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ูŠูุณู’ุฑูŽู‰ ูˆูŽ ุดูŽุจู‘ูŽูƒูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฃูŽุตูŽุงุจูุนูู‡ู ูˆูŽูˆูŽุถูŽุนูŽ ุฎูŽุฏู‘ูŽู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽูŠู’ู…ูŽู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุธูŽู‡ู’ุฑู ูƒููู‘ูู‡ู ุงู„ู’ูŠูุณู’ุฑูŽู‰ ูˆูŽ ุฎูŽุฑูŽุฌูŽุชู ุงู„ุณู‘ูุฑู’ุนูŽุงู†ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจู ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ููŽู‚ูŽุงู„ููˆู’ุง ู‚ูŽุตูุฑูŽุชู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ูˆูŽ ูููŠ ุงู„ู‚ูŽูˆู’ู…ู ุฃูŽุจููˆ ุจูŽูƒู’ุฑู ูˆูŽ ุนูู…ูŽุฑู ููŽู‡ูŽุงุจูŽุง ุฃูŽู†ู’ ูŠููƒูŽู„ู‘ูู…ูŽุงู‡ู ูˆูŽ ูููŠ ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู…ู ุฑูŽุฌูู„ูŒ ูููŠ ูŠูŽุฏูŽูŠูŒู‡ู ุทููˆู’ู„ูŒ ูŠูู‚ูŽุงู„ู ู„ูŽู‡ู ุฐููˆ ุงู„ู’ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู†ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณูŽูˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุฃูŽู†ูŽุณููŠู’ุชูŽ ุฃูŽู…ู’ ู‚ูŽุตูุฑูŽุชู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽู†ู’ุณูŽ ูˆูŽ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽู‚ู’ุตูุฑู’ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽูƒูŽู…ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู’ู„ู ุฐููˆ ุงู„ู’ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู†ู ููŽู‚ูŽุงู„ููˆู’ุง ู†ูŽุนูŽู…ู’ ููŽุชูŽู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ูŽ ููŽุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ู…ูŽุง ุชูŽุฑูŽูƒูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ูƒูŽุจู‘ูŽุฑูŽ ูˆูŽ ุณูŽุฌูŽุฏูŽ ู…ูุซู’ู„ูŽ ุณูุฌููˆู’ุฏูู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽุทู’ูˆูŽู„ูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุฑูŽููŽุนูŽ ุฑูŽุฃู’ุณูŽู‡ู ูˆูŽ ูƒูŽุจู‘ูŽุฑูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ูƒูŽุจู‘ูŽุฑูŽ ูˆูŽ ุณูŽุฌูŽุฏูŽ ู…ูุซู’ู„ูŽ ุณูุฌููˆู’ุฏูู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽุทู’ูˆูŽู„ูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุฑูŽููŽุนูŽ ุฑูŽุฃู’ุณูู‡ู ูˆูŽ ูƒูŽุจูŽู‘ุฑูŽ ููŽุฑูุจู‘ูŽู…ูŽุง ุณูŽุฃูŽู„ููˆู‡ู ุซูู…ู‘ูŽ ุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ููŽูŠูŽู‚ููˆู’ู„ู ู†ูุจูุฆู’ุชู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุนูู…ู’ุฑูŽุงู†ูŽ ุจู’ู†ูŽ ุญูุตูŽูŠู’ู†ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ

Artinya: โ€œDari Abu Hurairah berkata, โ€œRasulullah bersama kami melaksanakan salah satu dari shalat yang berada di waktu malam.โ€ Ibnu Sirin berkata, โ€œAbu Hurairah menyebutkan menyebutkan (nama) shalat tersebut, tetapi aku lupa.โ€ Abu Hurairah mengatakan, โ€œBeliau shalat bersama kami dua rakaat kemudian salam, kemudian beliau mendatangi kayu yang tergeletak di masjid. Beliau lalu berbaring pada kayu tersebut seolah sedang marah dengan meletakkan lengan kanannya di atas lengan kirinya serta menganyam jari jemarinya, sedangkan pipi kanannya diletakkan pada punggung telapak tangan kiri. Kemudian beliau keluar dari pintu masjid dengan cepat. Orang-orang pun berkata, โ€œApakah shalat telah diqashar (diringkas)?โ€ Padahal di tengah-tengah orang banyak tersebut ada Abu Bakar dan ‘Umar, dan keduanya enggan membicarakannya. Sementara di tengah kerumunan tersebut ada seseorang yang tangannya panjang dan dipanggil dengan nama Dzul Yadain, dia berkata, โ€œWahai Rasulullah, apakah Tuan lupa atau shalat diqashar?โ€ Beliau menjawab: โ€œAku tidak lupa dan shalat juga tidak diqashar.โ€ Beliau bertanya: โ€œApakah benar yang dikatakan Dzul Yadain?โ€ Orang-orang menjawab, โ€œBenar.โ€ Beliau kemudian maju ke depan dan mengerjakan shalat yang tertinggal kemudian salam. Setelah itu beliau takbir dan sujud seperti sujudnya yang dilakukannya atau lebih lama lagi. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan takbir, kemudian takbir dan sujud seperti sujudnya atau lebih lama lagi, kemudian mengangkat kepalanya dan takbir.โ€ Bisa jadi orang-orang bertanya kepadanya (Ibnu Sirin), apakah dalam hadits ada lafazh ‘Kemudian beliau salam’ lalu ia berkata; aku mendapat berita bahwa Imran bin Hushain berkata; kemudian beliau salam.โ€ (HR. Imam Bukhari, nomor hadits 482).

Jadi kesimpulan yang dapat kita ambil dari hikmah diatas yaitu,

Pertama, larangan dari tasybik diatas bukan bermaksud kepada larangan yang sampai pada hukum haram, tetapi itu perkara hal yang mubah dan makruh. Dan tujuan dari hadis itu, agar ibadah kepada allah SWT fokus hanya kepada allah-lah pandangan atau wajah kita, adapun haram hukumnya jika dibawakan tasybik itu kepada sholat.

Kedua, Nabi sebagai uswah dan qudwah manusia, ternyata dari segi psikologis atau kebiasaan Nabi SAW sendiri pernah melakukan tasybik tersebut, seperti mengingat akan hal sesuatu yang terlupakan oleh beliau, seperti hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah diatas. Jadi tasybik tersebut hal perkara yang mubah saja diluar amalan sholat/ibadah.

Ketiga, jika seseorang melihat dari hadis diatas, itu termasuk hadis yang mukhtalif dari segi matannya. Karna terdapat larangan dan kebolehan pada hadis diatas. Dan penyelesaian diatas itu termasuk cara Jamโ€™u wa Taufiq dalam penyelesaian hadis yang bertentangan diatas.

 

Biodata Diri

Nama : Hafisto Yudistira

Email : hafistoyudistira@gmail.com

Tempat/Tanggal Lahir : Bukittinggi/09-11-2002

Universitas : UIN Syech Djambek Djambek Bukittinggi

Fakultas/Prodi : Fakultas Ushulluddin Adab dan Dakwah/Ilmu Hadis

Follow WhatsApp Channel jamgadangnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lapas Bukittinggi Fun Walk Sambut HUT RI ke-81
Presiden Prabowo Terima Wakil Menteri Perang AS Elbridge Colby, Perkuat Kemitraan Strategis Indonesia-Amerika Serikat
Semarak Kemerdekaan, WBP Lapas Bukittinggi Tunjukkan Bakat Bernyanyi Lewat LABUKTI IDOL
Aksi Donor Darah Sinergi PMI dan Lapas Bukittinggi Sambut HUT RI
Kalapas Bukittinggi Buka Pekan Olahraga Dan Seni Sambut HUT RI 81
Semarak HUT ke-81 RI, Lapas Kelas IIA Bukittinggi Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Warga Binaan
Lapas Bukittinggi Gelar Bakti Sosial
Arnis Palimo Gelar Reses di Guguk Panjang, Serap Aspirasi Warga dan Tekankan Pentingnya Jaga Generasi

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 09:38 WIB

Lapas Bukittinggi Fun Walk Sambut HUT RI ke-81

Kamis, 13 Agustus 2026 - 09:25 WIB

Presiden Prabowo Terima Wakil Menteri Perang AS Elbridge Colby, Perkuat Kemitraan Strategis Indonesia-Amerika Serikat

Kamis, 13 Agustus 2026 - 01:37 WIB

Semarak Kemerdekaan, WBP Lapas Bukittinggi Tunjukkan Bakat Bernyanyi Lewat LABUKTI IDOL

Selasa, 11 Agustus 2026 - 00:36 WIB

Aksi Donor Darah Sinergi PMI dan Lapas Bukittinggi Sambut HUT RI

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 23:22 WIB

Semarak HUT ke-81 RI, Lapas Kelas IIA Bukittinggi Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Warga Binaan

Berita Terbaru

Berita

Lapas Bukittinggi Fun Walk Sambut HUT RI ke-81

Jumat, 14 Agu 2026 - 09:38 WIB