Kewajiban Pemilik Hewan: Apakah Ganti Rugi atas Kerusakan pada Si pemilik Tanaman ?

- Redaksi

Selasa, 31 Desember 2024 - 23:47 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

๐Ÿ™ Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Tanaman sering kali menghadapi berbagai ancaman yang dapat mengurangi hasil panen atau bahkan merusaknya sepenuhnya. Salah satu ancaman utama adalah kerusakan yang disebabkan oleh hewan. Hewan-hewan ini, baik liar maupun peliharaan, dapat merusak tanaman secara langsung maupun tidak langsung.

Salah satu contoh hadis mukhtalif yang menyebabkan perbedaan pandangan di kalangan fuqaha adalah mengenai kewajiban pemilik binatang untuk mengganti kerugian atas tanaman yang dirusak oleh binatang tersebut. Dalam hal ini, terdapat dua hadis yang memiliki makna yang bertentangan.

ุนู† ุฃุจูŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุฌู’ู…ูŽุงุกู ุฌูุจูŽุงุฑูŒ ูˆูŽุงู„ู’ุจูุดู’ุฑู ุฌูุจูŽุงุฑูŒ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฏูู†ู ุฌูุจูŽุงุฑู ูˆูŽูููŠ ุงู„ุฒู‘ูŽูƒูŽุงุฑู ุงู„ู’ุฎูู…ู’ุณู

Dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kecederaan kerana binatang adalah sia-sia (tidak ada ganti rugi), jatuh dalam telaga adalah sia-sia, jatuh dalam lombong adalah sia-sia dan pada harta tertanam itu diambil satu perlima (sebagai zakat). (al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, al-Tirmizi, al-Nasa’i, Ibn Majah)

ู…ู† ุญุฑุงู… ู…ู† ู…ุฎุชุตุฉ ุนู† ุฃุจูŠู‡ ุฃู† ู†ูŽุงู‚ูŽุฉ ู„ูู„ู’ุจูŽุฑูŽุงุกู ุจู† ุนุงุฒุจ ุฏุฎู„ุช ุญูŽุงุฆูุท ุฑูŽุฌูุฑู ููŽุฃูŽู‚ู’ุณูŽุฏู’ู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูŠูŽู‚ู’ุถูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนู„ู‰ ุฃู‡ู„ ุงู„ุฃู…ูˆุงู„ ุญูุธู‡ุง ุจุงู„ู†ู‡ุงุฑ ูˆุนู„ูŽู‰ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽูˆูŽุงุดููŠ ุญูุธู‡ุง ุจูุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู

Dari Haram bin Muhaiyyisah, dari ayahnya, bahwa seekor unta milik Bara bin ‘Azib pernah masuk ke dalam kebun seseorang dan merusaknya. Rasulullah ๏ทบ kemudian memutuskan bahwa pemilik harta (seperti kebun) bertanggung jawab untuk menjaganya pada siang hari, sedangkan pemilik ternak bertanggung jawab untuk menjaga hewannya pada malam hari. (Abu Daud)

Wajah Ta’arudh

Hadis pertama, yaitu hadis Abu Hurairah, menyatakan bahwa pemilik hewan tidak diwajibkan membayar ganti rugi jika hewannya merusak tanaman milik orang lain. Sementara itu, hadis Muhaiyyisah menetapkan bahwa pemilik hewan dikenakan ganti rugi apabila kerusakan terjadi pada malam hari. Namun, jika kerusakan terjadi pada siang hari, tidak ada kewajiban ganti rugi baginya. Hadis pertama memberikan penafian ganti rugi secara umum, sedangkan hadis kedua memperjelas bahwa ganti rugi hanya berlaku dalam kondisi tertentu, yakni pada waktu malam.

Bagaimana penyelesaian masalah Ini?

Sebagian besar ulama menyelesaikan konflik antara kedua hadis tersebut dengan menggunakan metode takhsis, yaitu membatasi makna umum suatu teks hanya pada sebagian kelompok atau individu tertentu. Dengan demikian, makna umum teks tersebut tidak diambil secara literal, melainkan sebagian individu dikecualikan dari penerapan hukum yang bersifat umum.

Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yang memiliki makna umum, diinterpretasikan secara khusus pada siang hari berdasarkan pemahaman dari hadis Muhaiyyisah yang bersifat khusus. Hal ini menunjukkan bahwa penafian terhadap ganti rugi hanya berlaku untuk kasus yang terjadi pada siang hari, karena pada waktu tersebut pemilik kebun atau tanaman bertanggung jawab untuk menjaga harta mereka. Dengan demikian, kerusakan akibat binatang pada siang hari dianggap sebagai akibat dari kelalaian pemilik tanaman. Sebaliknya, pada malam hari, tanggung jawab beralih kepada pemilik ternak untuk memastikan binatang mereka tidak lepas dan merusak tanaman milik orang lain. Oleh karena itu, segala kerusakan yang terjadi pada malam hari menjadi tanggung jawab pemilik ternak.

Menurut pandangan Imam Abu Hanifah, penentuan kewajiban membayar ganti rugi tidak didasarkan pada waktu, melainkan pada tingkat kelalaian pemilik hewan, tanpa memandang apakah kerusakan terjadi pada siang atau malam hari. Berdasarkan hadis Muhaiyyisah, beliau menegaskan bahwa kelalaian pemilik hewan menjadi faktor utama. Dalam kebiasaan, pemilik hewan bertanggung jawab menjaga hewannya pada malam hari. Oleh karena itu, jika kerusakan tanaman terjadi akibat kelalaian pemilik pada siang hari, ia wajib membayar ganti rugi. Namun, jika pada malam hari hewan telah dijaga dengan baik dan tidak ada unsur kelalaian, maka pemiliknya tidak dikenakan kewajiban ganti rugi atas kerusakan tersebut.

Kesimpulannya adalah bahwa kedua hadis tersebut memberikan panduan yang saling melengkapi terkait kewajiban pemilik hewan atas kerusakan yang ditimbulkan. Hadis pertama secara umum menyatakan bahwa pemilik hewan tidak diwajibkan membayar ganti rugi atas kerusakan tanaman. Namun, hadis Muhaiyyisah memberikan penjelasan lebih spesifik, yaitu kewajiban ganti rugi berlaku jika kerusakan terjadi pada malam hari karena pada waktu tersebut hewan biasanya harus dijaga oleh pemiliknya. Dengan demikian, kewajiban ganti rugi ditentukan berdasarkan situasi dan waktu terjadinya kerusakan, khususnya dalam konteks malam hari sebagai waktu yang lebih rentan terhadap kelalaian pemilik hewan.

Profil Penulisย 

Nama : Ahmad Anastiar Jefri

Tempat/Tanggal Lahir : Lawang, 25 September 2003

Fakultas/Jurusan : Ushuluddin Adab dan Dakwah/Ilmu Hadis

Universitas : Universitas Islam Negeri Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi

Email : ahmadjefri2504@gmail.com

 

 

Follow WhatsApp Channel jamgadangnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tourism Malaysia Hadiri Pelantikan PWI Bukittinggi, Sinergi Wisata RI-Malaysia Diperkuat
Kualitas Udara Memburuk, Pemko Padang Alihkan Pembelajaran Sekolah ke Daring Mulai Rabuย 
M. Dhanni Hariyona Terpilih Pimpin Golkar Bukittinggi
Ketua PMI Bukittinggi Ajak Warga Donor Darah, 10 Menit Bisa Selamatkan Nyawa
Musda XI Golkar Bukittinggi Digelar, M. Dhanni Mengajak Generasi Muda Agar Melek Politik
Kanim Agam Perkuat Tata Kelola SDM dan Akuntabilitas Kinerja melalui Penyusunan ABK dan SKP 2026
Latihan Paralayang Se-Sumbar di Gunung Bungsu Berlangsung di Tengah Minimnya Perhatian
Wawako Bukittinggi Apresiasi Lomba Deklamasi SD-SMP, Dorong Literasi dan Nasionalisme Generasi Muda

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 09:27 WIB

Tourism Malaysia Hadiri Pelantikan PWI Bukittinggi, Sinergi Wisata RI-Malaysia Diperkuat

Rabu, 9 September 2026 - 01:55 WIB

Kualitas Udara Memburuk, Pemko Padang Alihkan Pembelajaran Sekolah ke Daring Mulai Rabuย 

Senin, 7 September 2026 - 15:55 WIB

M. Dhanni Hariyona Terpilih Pimpin Golkar Bukittinggi

Senin, 7 September 2026 - 15:22 WIB

Ketua PMI Bukittinggi Ajak Warga Donor Darah, 10 Menit Bisa Selamatkan Nyawa

Minggu, 6 September 2026 - 22:56 WIB

Musda XI Golkar Bukittinggi Digelar, M. Dhanni Mengajak Generasi Muda Agar Melek Politik

Berita Terbaru

Berita

M. Dhanni Hariyona Terpilih Pimpin Golkar Bukittinggi

Senin, 7 Sep 2026 - 15:55 WIB