Peringatan puncak perayaan Seratus tahun Jam Gadang dihadiri para tokoh penting (*N)
Bukittinggi, Jamgadangnews– Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menegaskan bahwa sejarah Indonesia tidak dapat dipersempit hanya pada masa kolonialisme Belanda. Menurutnya, peradaban Nusantara telah berkembang jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.
Pernyataan itu disampaikan Fadli Zon saat menjadi pembicara dalam Seminar Internasional bertajuk “Merajut Tenun Diplomasi antara Indonesia dan Belanda: Pergerakan Kemerdekaan hingga Repatriasi” yang digelar dalam rangka peringatan 100 tahun Jam Gadang di Balai Sidang Hatta, Bukittinggi, Sabtu (20/6/2026).
“Kita sering disebut pernah dijajah Belanda, padahal itu hanya satu bagian kecil dari perjalanan sejarah bangsa. Peradaban Indonesia jauh lebih panjang dan kaya,” kata Fadli.
Ia menjelaskan, berbagai temuan arkeologi menunjukkan Nusantara telah menjadi pusat perkembangan manusia sejak puluhan ribu hingga jutaan tahun lalu. Bahkan, sebagian besar temuan Homo erectus dunia ditemukan di wilayah Indonesia.

Menurut Fadli, Sumatera Barat juga menyimpan jejak sejarah penting melalui sejumlah temuan purbakala yang diperkirakan berusia antara 63.000 hingga 70.000 tahun. Selain itu, terdapat pula lukisan-lukisan purba di Kabupaten Lima Puluh Kota yang menjadi bukti panjangnya perjalanan peradaban di kawasan tersebut.
Dalam kesempatan itu, Fadli menilai Jam Gadang bukan sekadar ikon wisata Kota Bukittinggi, melainkan saksi perjalanan sejarah bangsa, termasuk berbagai peristiwa penting pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), dan layak disebut kota perjuangan.
“Jam Gadang menyaksikan banyak momentum penting dalam sejarah Indonesia. Karena itu, peringatan satu abadnya menjadi kesempatan untuk memperkuat literasi sejarah sekaligus memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda,” ujarnya.
Fadli juga meyakini rangkaian kegiatan peringatan 100 tahun Jam Gadang dapat memberikan dampak positif bagi sektor ekonomi, kebudayaan, ekonomi kreatif, hingga pariwisata di Sumatera Barat.
Sementara itu, Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias mengatakan peringatan satu abad Jam Gadang menjadi momentum untuk menggali dan memperkuat nilai-nilai sejarah serta budaya yang melekat pada bangunan bersejarah tersebut.
“Jam Gadang bukan untuk disakralkan, tetapi untuk dipahami nilai sejarah dan budayanya agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” kata Ramlan.
Ia berharap rangkaian kegiatan yang digelar sepanjang peringatan 100 tahun Jam Gadang dapat memperluas jejaring kerja sama di bidang sejarah, budaya, literasi, dan pariwisata, termasuk dengan berbagai pihak di Belanda.
Peringatan 100 tahun Jam Gadang diisi dengan berbagai agenda yang mengangkat tema sejarah, diplomasi, dan kebudayaan, sekaligus mempertegas posisi Bukittinggi sebagai salah satu kota bersejarah penting di Indonesia.
Editor : Khairunas

















