Di suatu sore yang tenang, seorang wanita tua tertegun memandang Jam Gadang—ikon yang telah lama tak ia kunjungi. Pandangannya menyapu taman di sekelilingnya yang kini tampak bersih, rapi, dan menenangkan. Keindahannya seolah mengundang kenangan lama untuk kembali hadir.
Bukittinggi, 27 April 2026.
Perlahan, ia mengalihkan pandangannya ke arah Gunung Merapi dan Gunung Singgalang yang berdiri megah di kejauhan. Udara sejuk yang menyelimuti kota itu terasa begitu menenangkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Senyum tipis terukir di wajahnya—senyum yang sarat akan kenangan.
Kenangan tentang seseorang yang pernah singgah begitu dalam di hatinya. Seorang laki-laki yang dahulu mengucap janji setia—sehidup semati, menjalani hari bersama. Jam Gadang menjadi saksi bisu dari janji yang pernah mereka ikrarkan berdua.
Mereka pernah berjalan bergandengan tangan, saling menatap penuh makna, menyusuri jalanan Bukittinggi seakan dunia hanya milik mereka. Hari demi hari dilalui dengan bahagia. Bulan berganti bulan, tahun pun berlalu. Namun kebahagiaan yang dulu begitu erat dalam genggaman, perlahan terlepas tanpa alasan yang jelas.
Segalanya berubah.
Badai datang tanpa peringatan, menghancurkan semua yang telah tersusun rapi. Hati yang dulu utuh kini hancur berkeping-keping. Tak pernah terbayangkan bahwa semua akan berakhir tanpa kata—tanpa penjelasan dari seseorang yang telah lama menemaninya.
Hingga suatu hari, sebuah undangan tergeletak di depan pintu rumahnya.
Dengan perasaan tak menentu, ia mengambil dan membacanya perlahan. Tangannya bergetar, bibirnya kelu. Debar di dadanya bergemuruh. Di sana tertera nama yang begitu ia kenal—nama seseorang yang selama ini ia cintai.
Air mata mengalir tanpa tertahan. Wajahnya memanas, dadanya sesak. Tak ada kata perpisahan, tak ada permintaan maaf. Semua terjadi begitu saja.
Di luar, langit mulai menggelap. Petir menyambar, hujan turun deras menghantam atap, menciptakan suara seperti gesekan biola yang pilu. Angin berhembus lembut, dedaunan menari seperti tarian balet yang sendu—seakan ikut merasakan luka yang ia simpan.
Wanita muda itu—dirinya di masa lalu—hanya mampu tersenyum pahit.
“Di mana janjimu? Mengapa begitu cepat berubah? Siapa yang telah merebut hatimu hingga kau lupa pada janji kita di taman ini?” bisiknya dalam hati.
Waktu pun berlalu.
Beberapa tahun kemudian, laki-laki itu kembali. Ia datang dengan penyesalan, membawa luka dari cinta yang telah mengkhianatinya. Namun segalanya telah terlambat.
“Jangan kau harap bunga yang telah layu ini akan mekar kembali,” ucapnya tegas.
“Biarkan aku hidup dengan pilihanku sendiri. Luka ini telah aku relakan. Pergilah, dan temukan kebahagiaanmu di tempat lain.”
Senja mulai turun, langit perlahan menguning keemasan.
Wanita tua itu pun beranjak pergi meninggalkan pelataran Jam Gadang. Kali ini tanpa menoleh kembali. Semua telah menjadi masa lalu—cukup dikenang, tak perlu diulang.
Ia memilih melanjutkan hidupnya dalam sunyi, berdamai dengan luka yang pernah ada.
“Selamat tinggal, Bukittinggi… kota penuh kenangan,” bisiknya pelan.
Dan langkahnya pun menjauh, membawa sisa-sisa cerita menuju senja usia.
Penulis : Eri Piliang
Editor : Yopi Herdiansyah






