Photo, Shutterstock.com
Bukan aku tak sayang padamu. Bukan pula aku menolak cintamu. Namun, hati ini telah tertutup untuk cinta. Biarlah aku sendiri di sudut kota ini.
Biarlah begini, berteman dengan rembulan. Biarlah begini, bersahabat dengan sepinya malam.
Bukittinggi, 03 Juni 2026
Lagu itu terdengar begitu merdu di telinga seorang laki-laki yang duduk di kursi empuk sebuah bus malam. Bus itu membawanya pergi jauh, menembus gelap menuju kota metropolitan yang tak pernah tidur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia memandang ke sekeliling. Para penumpang lain telah terlelap, hanyut dalam mimpi masing-masing. Hanya dirinya yang masih terjaga. Matanya enggan terpejam meski sesaat.
Pikirannya melayang jauh ke masa lalu, pada sebuah peristiwa yang memaksanya meninggalkan kampung halaman. Kampung yang telah memberinya begitu banyak pelajaran tentang hidup dan kehidupan: Kota Bukittinggi.
Kenangan itu masih tergambar jelas di pelupuk matanya dan tersimpan rapi di dalam hati yang terluka. Saat itu, ia melihat perempuan yang dicintainya sedang asyik bercengkerama dengan seorang laki-laki lain di sebuah kedai kopi.
Mereka saling menatap dengan penuh kebahagiaan, bertukar senyum, lalu berjalan bergandengan tangan. Mereka tidak pernah tahu bahwa ada sepasang mata lain yang menyaksikan semua itu dari kejauhan. Tatapan yang dipenuhi rasa kecewa, marah, dan gundah yang bercampur menjadi satu.
Ada keinginan untuk memanggil namanya, bahkan berteriak sekuat tenaga. Namun, bibirnya seakan terkunci. Sejak saat itu, kasih dan sayang yang selama ini tersimpan di dadanya perlahan memudar. Tak ada lagi keinginan untuk menyambung rasa yang telah lama terputus.
Waktu terus berjalan.
Ketika semuanya telah berlalu dan hatinya mulai mati rasa, perempuan itu justru datang kembali. Ia berharap cinta yang pernah hilang dapat kembali ke pangkuannya. Ia berharap waktu bisa diputar ulang dan segala kesalahan dapat diperbaiki.
Namun, semuanya sudah terlambat.
Cinta itu telah tertinggal di kota ini. Di sebuah kota kecil yang penuh kenangan bernama Bukittinggi. Cinta itu bukan lagi miliknya, dan ia tak pernah ingin berharap pada satu kata yang dahulu begitu berarti dalam hidupnya: cinta.
Malam semakin larut. Bus yang ditumpanginya kini melaju di tengah jalanan yang membelah hutan sunyi. Lagu sendu yang sejak tadi menemani perlahan berhenti, menyisakan deru mesin dan kesunyian yang panjang.
Akhirnya, laki-laki muda itu tertidur pulas. Dalam tidurnya, ia berjanji untuk tidak lagi mengingat semua kenangan pahit yang pernah menghantuinya. Ia ingin menguburnya dalam-dalam bersama waktu.
Beberapa tahun kemudian, ia kembali ke Kota Bukittinggi. Bukan untuk menjemput cinta yang telah hilang, melainkan untuk menjalani hidupnya sendiri di sudut kota yang sama, bersama kenangan yang tak pernah benar-benar pergi
.
Penulis : Eri Piliang
Editor : Khairunas






