Bukittinggi, Selasa 09/06/2026. Malam di Jalan Sudirman.
Seorang ayah duduk termenung di pinggir trotoar. Helm ojek masih bertengger di kepala, tapi motornya sudah lama tak berbunyi. Dia hanya tukang ojek. Pekerjaan yang jadi satu-satunya tumpuan untuk istri dan dua anaknya yang masih sekolah dan butuh biaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di rumah, tiga orang itu menunggu dia pulang membawa beras, uang jajan, dan harapan. Semua dijalani dengan ikhlas dan sabar, meski musim sepi penumpang sering datang tanpa ampun.
Saat argo sepi dan hujan turun, helm jadi bantal, jok motor jadi kasur. Perut kosong ditahan, asal anak di rumah bisa makan. Sering kali dia cuma bisa memandang motor dan mobil lalu-lalang di hadapannya, menghitung rezeki orang yang tak pernah singgah di tangannya.
Sakitnya bukan di betis yang kram nahan kopling, tapi di kepala yang riuh oleh tanya: “Sampai kapan rezeki ini kutunggu di atas sadel? Usianya terus bertambah, tenaganya diam-diam pamit. Uban mulai merajai kepala, tapi daftar kebutuhan anak-anak justru makin panjang dan meninggi.
Pagi buta sudah di pangkalan, malam baru pulang dengan dompet tipis. Kadang cukup untuk sehari, kadang harus pinjam ke tetangga atau warung. Malu, tapi lebih malu lagi kalau anak-anaknya tak makan.
Dia menatap langit Bukittinggi yang mulai gelap. Dari dalam hati terdalam, dia hanya berharap pada Yang Kuasa. Di sisa umur yang tak pasti ini, dia ingin sekali melihat anaknya wisuda, melihat istrinya tersenyum tanpa cemas besok mau makan apa.
Yang paling dia takutkan bukan penagih utang. Bukan razia. Tapi takdir. Karena bila masanya tiba, ada masa untuk berpisah. Meninggalkan kenangan, sementara harapan dan cita-cita belum semua tercapai, tapi sudah direnggut lebih dulu oleh Yang Kuasa.
Rasa lapar sudah jadi teman. Ditahan demi bisa beli buku anak. Ditahan demi bayar listrik. Ditahan demi satu porsi sayur yang bisa dibagi tiga di rumah. Dia kuat, tapi malam ini matanya basah.
Dia tidak menyesal jadi tukang ojek. Dia ikhlas. Yang dia sesali adalah waktu. Waktu yang jalan terlalu cepat, sementara tabungan belum cukup untuk jaga-jaga kalau dia dipanggil pulang duluan.
Dia bayangkan wajah dua anaknya. Bayangkan mereka menangis di pusaranya karena sang ayah pergi tanpa sempat memberi bahagia yang mereka harapkan. Pikiran itu lebih sakit dari kehujanan seharian tanpa penumpang.
Andai suatu saat nanti Tuhan memanggil untuk pulang menemui Sang Pencipta, dia tak ingin melihat mereka menangis. Tak ingin jadi almarhum yang meninggalkan beban, bukan kenangan.
Maka malam ini, di bawah lampu jalan yang temaram, dia tundukkan kepala. Bukan menyerah. Tapi dia bisikkan doa paling lirih: “Ya Allah, beri aku waktu. Beri aku tenaga. Izinkan aku pulang bawa senyum, bukan air mata.”
Motor kembali dia nyalakan. Suaranya berat, tapi langkahnya mantap. Untuk satu tujuan yang belum sampai: membahagiakan keluarga, sebelum waktunya habis.
Karena tak ada seorang laki-laki yang menangis karena nasib. Laki-laki akan menangis ketika dia sedang bersujud mengadu pada Yang Kuasa. Itulah air mata yang sesungguhnya dari seorang laki-laki.
Penulis : Eri Piliang
Editor : Dodi Afriandi






