Detak irama sepatu kuda terdengar bersahutan, mengalun seperti musik yang hidup di tengah kota. Jembatan gantung itu masih berdiri kokoh—menjadi saksi bisu dari kisah-kisah yang pernah singgah, termasuk kisah tentang penantian yang kini kembali terulang.
Di bawahnya, seorang laki-laki muda berdiri gelisah. Pandangannya tak lepas dari jalanan yang ramai. Lalu lalang kendaraan dan bendi tak mampu mengalihkan fokusnya. Ia menunggu—menunggu seseorang yang telah berjanji untuk bertemu di tempat itu.
Bukittinggi, 30 April 2026.
Sudah berkali-kali kendaraan berhenti di hadapannya, dan tak terhitung jumlah bendi yang menurunkan penumpang. Namun, sosok yang dinantikan belum juga tampak. Kegelisahan mulai menguasai dirinya, bercampur dengan prasangka yang perlahan tumbuh.
“Apa yang terjadi? Mengapa ia belum juga datang?” gumamnya dalam hati.
Sementara itu, detak kaki kuda yang bersahutan terdengar seperti irama gambus yang merdu, mengisi ruang-ruang sunyi dalam penantiannya.
Dan kemudian—
Dari kejauhan, tampak seorang wanita muda turun dari sebuah bendi. Ia berjalan perlahan mendekat. Cantik, sederhana, namun begitu memikat. Ia mengenakan celana jeans, kaus putih, dan sepatu senada. Rambut panjangnya terurai, melambai lembut tertiup angin. Senyumnya merekah alami, hanya dipoles lipstik tipis yang semakin menambah pesonanya.
Laki-laki itu tertegun.
Wanita itu kini berdiri di hadapannya.
“Maaf, aku terlambat,” ucapnya lembut.
“Tidak apa-apa,” jawab si pemuda dengan senyum bahagia yang tak dapat ia sembunyikan.
Tanpa banyak kata, keduanya saling menggenggam tangan. Mereka berjalan berdampingan, berbagi cerita, bertukar tatap penuh makna—dua hati yang tengah diliputi rasa cinta.
Mereka menyusuri Pasar Banto, lalu melangkah menaiki Jenjang Empat Puluh. Angin senja berhembus pelan, membawa kesejukan yang menenangkan. Dalam keheningan yang hangat itu, si pemuda berbisik pelan di telinga sang wanita,
“Hari ini, kamu sangat cantik.”
Wanita itu tersenyum, hatinya menghangat oleh pujian sederhana yang tulus.
Dari sebuah kedai yang mereka lewati, terdengar sayup alunan lagu cinta—
“Cintamu akan selalu mekar di hati,
bagai bulan yang menyinari hidupku.
Bersinarlah selamanya,
bagai bintang yang menerangi jalanku…”
Langit perlahan meredup. Gerimis turun, membasahi jalanan yang sebelumnya terpanggang matahari. Dedaunan yang layu kembali segar, seakan ikut merasakan kebahagiaan yang tumbuh di antara keduanya.
Mereka berjalan hingga ke Taman Jam Gadang. Di sana, mereka duduk berdampingan, menikmati keindahan Gunung Merapi yang diselimuti awan. Senja pun berpamitan, memberi jalan pada malam.
Bulan dan bintang mulai menghiasi langit. Jangkrik bernyanyi, menyambut malam yang damai. Di kejauhan, detak sepatu kuda dari bendi kembali terdengar—kali ini seperti irama talempong yang saling bersahutan.
Di bawah langit Bukittinggi, dua insan itu larut dalam kebersamaan, sementara waktu berjalan perlahan, mengabadikan kisah mereka dalam irama penantian yang akhirnya terjawab.
Penulis : Eri Piliang
Editor : TeamJG

















