Irama Penantian di Bawah Jembatan Gantung

- Redaksi

Jumat, 1 Mei 2026 - 19:55 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Detak irama sepatu kuda terdengar bersahutan, mengalun seperti musik yang hidup di tengah kota. Jembatan gantung itu masih berdiri kokoh—menjadi saksi bisu dari kisah-kisah yang pernah singgah, termasuk kisah tentang penantian yang kini kembali terulang.

Di bawahnya, seorang laki-laki muda berdiri gelisah. Pandangannya tak lepas dari jalanan yang ramai. Lalu lalang kendaraan dan bendi tak mampu mengalihkan fokusnya. Ia menunggu—menunggu seseorang yang telah berjanji untuk bertemu di tempat itu.

Bukittinggi, 30 April 2026.

Sudah berkali-kali kendaraan berhenti di hadapannya, dan tak terhitung jumlah bendi yang menurunkan penumpang. Namun, sosok yang dinantikan belum juga tampak. Kegelisahan mulai menguasai dirinya, bercampur dengan prasangka yang perlahan tumbuh.

“Apa yang terjadi? Mengapa ia belum juga datang?” gumamnya dalam hati.

Sementara itu, detak kaki kuda yang bersahutan terdengar seperti irama gambus yang merdu, mengisi ruang-ruang sunyi dalam penantiannya.

Dan kemudian—

Dari kejauhan, tampak seorang wanita muda turun dari sebuah bendi. Ia berjalan perlahan mendekat. Cantik, sederhana, namun begitu memikat. Ia mengenakan celana jeans, kaus putih, dan sepatu senada. Rambut panjangnya terurai, melambai lembut tertiup angin. Senyumnya merekah alami, hanya dipoles lipstik tipis yang semakin menambah pesonanya.

Laki-laki itu tertegun.

Wanita itu kini berdiri di hadapannya.

“Maaf, aku terlambat,” ucapnya lembut.

“Tidak apa-apa,” jawab si pemuda dengan senyum bahagia yang tak dapat ia sembunyikan.

Tanpa banyak kata, keduanya saling menggenggam tangan. Mereka berjalan berdampingan, berbagi cerita, bertukar tatap penuh makna—dua hati yang tengah diliputi rasa cinta.

Mereka menyusuri Pasar Banto, lalu melangkah menaiki Jenjang Empat Puluh. Angin senja berhembus pelan, membawa kesejukan yang menenangkan. Dalam keheningan yang hangat itu, si pemuda berbisik pelan di telinga sang wanita,

“Hari ini, kamu sangat cantik.”
Wanita itu tersenyum, hatinya menghangat oleh pujian sederhana yang tulus.

Dari sebuah kedai yang mereka lewati, terdengar sayup alunan lagu cinta—

“Cintamu akan selalu mekar di hati,
bagai bulan yang menyinari hidupku.

Bersinarlah selamanya,
bagai bintang yang menerangi jalanku…”

Langit perlahan meredup. Gerimis turun, membasahi jalanan yang sebelumnya terpanggang matahari. Dedaunan yang layu kembali segar, seakan ikut merasakan kebahagiaan yang tumbuh di antara keduanya.

Mereka berjalan hingga ke Taman Jam Gadang. Di sana, mereka duduk berdampingan, menikmati keindahan Gunung Merapi yang diselimuti awan. Senja pun berpamitan, memberi jalan pada malam.

Bulan dan bintang mulai menghiasi langit. Jangkrik bernyanyi, menyambut malam yang damai. Di kejauhan, detak sepatu kuda dari bendi kembali terdengar—kali ini seperti irama talempong yang saling bersahutan.

Di bawah langit Bukittinggi, dua insan itu larut dalam kebersamaan, sementara waktu berjalan perlahan, mengabadikan kisah mereka dalam irama penantian yang akhirnya terjawab.

Penulis : Eri Piliang

Editor : TeamJG

Follow WhatsApp Channel jamgadangnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Maulid Nabi Di Hati dan Di perbuatan
Kibarkan Sang Merah Putih, Sebab Perjuangan Belum Selesai
Jam Gadang, Saksi yang Tak Pernah Tidur
TUJUAN YANG BELUM SAMPAI
Cinta Yang Tertinggal di Bukittinggi
Jejak Setia di Embun Subuh
Janji di Bawah Menara Jam Gadang”
Biar Aku Sendiri di Sudut Kota

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 14:35 WIB

Maulid Nabi Di Hati dan Di perbuatan

Senin, 17 Agustus 2026 - 19:26 WIB

Kibarkan Sang Merah Putih, Sebab Perjuangan Belum Selesai

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:33 WIB

Jam Gadang, Saksi yang Tak Pernah Tidur

Selasa, 9 Juni 2026 - 06:35 WIB

TUJUAN YANG BELUM SAMPAI

Rabu, 3 Juni 2026 - 22:29 WIB

Cinta Yang Tertinggal di Bukittinggi

Berita Terbaru

Berita

M. Dhanni Hariyona Terpilih Pimpin Golkar Bukittinggi

Senin, 7 Sep 2026 - 15:55 WIB