Gambar siluet, Pixabay (**)
Di sudut sebuah kota kecil yang terletak di kaki Gunung Merapi, kota nan indah dengan panorama yang memanjakan mata dan udara yang sejuk, berdirilah sebuah rumah sederhana.
Di dalamnya, seorang perempuan tua duduk termenung seorang diri, memandangi pintu kamar anaknya.
Perlahan ia bangkit dan membuka pintu kamar itu. Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan—buku-buku tersusun rapi di atas meja, pakaian yang dahulu sering berserakan kini tak lagi terlihat. Kamar itu rapi, terlalu rapi, seolah tak pernah lagi dihuni.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Masa kanak-kanak dan masa remaja telah lama berlalu. Tak lagi terdengar suara tawa dan rengekan manja sang anak. Mereka kini telah dewasa, mampu berdiri di atas kaki sendiri, menjalani kehidupan bersama keluarga kecil mereka—nun jauh di seberang lautan.
Dengan helaan napas berat, perempuan tua itu duduk bersandar di dinding rumah, bertopang dagu, tenggelam dalam lamunan. Ada rindu yang menyesak di dada—rindu akan sosok anak perempuan semata wayangnya.
Bagaimana keadaanmu sekarang?
Mengapa tak ada kabar darimu?
Apakah kau telah lupa pada sosok renta yang sangat merindukan suaramu?
Usia telah menggerogoti tubuhnya. Kulit yang dahulu kencang kini keriput, rambut hitam pekat telah memutih. Dari sudut mata yang lelah, mengalir setitik air bening membasahi pipi keriputnya. Ia menangis terisak, memeluk rindu yang selama ini tak pernah terwujud.
Perlahan ia mengusap air mata dengan ujung bajunya. Dari lubuk hati terdalam, ia berharap—di sisa usia yang tak pasti ini—bisa kembali berkumpul dengan anak semata wayangnya, bercengkerama seperti masa-masa indah dahulu.
Kini ia hidup seorang diri di rumah sederhana itu. Tak ada saudara, tak ada kerabat yang menemani hari-hari senjanya.
Malam kian larut. Gerimis turun membasahi bumi, dedaunan, dan bunga-bunga kering. Angin sepoi-sepoi menyelinap masuk melalui pintu yang lapuk dan berlubang.
Perempuan tua itu bangkit, melangkah pelan menuju pintu, membukanya sedikit. Angin dingin menerpa wajahnya yang layu. Tatapan penuh harap ia arahkan ke jalanan remang yang dihiasi rintik hujan.
Dalam benaknya, ia membayangkan sosok itu muncul—melambaikan tangan sambil berkata:
“Ibu, aku pulang. Aku rindu. Aku ingin tidur di pangkuan ibu seperti dulu. Ingin melihat senyuman yang lama tak kulihat. Aku ingin memelukmu, menangis, dan memohon maaf.”
Lamunannya buyar saat suara petir menggelegar, hujan turun semakin deras. Ia segera menutup pintu dan kembali duduk, berbisik lirih dalam hati,
“Aku hanya berkhayal.”
Perlahan ia merebahkan tubuh di kursi usang. Mata mulai terasa berat. Ia ingin tidur, ingin bermimpi—bercengkerama riang dengan anak semata wayangnya.
Sebelum mata terpejam, ia masih berharap dan berdoa:
Pulanglah, apa pun keadaanmu. Ibu hanya ingin memelukmu dan memberikan kasih sayang di sisa umur yang tak pasti ini.
Senyum tipis terukir di wajahnya. Ia memejamkan mata, berselimut kain sarung lusuh. Hati dan jiwa seorang ibu akan selalu hadir di setiap denyut nadi anaknya. Doa seorang ibu tak akan pernah putus sepanjang hayat.
Mata lelah itu terpejam dalam tidur yang sangat pulas. Dari sudut matanya, masih mengalir setitik air bening. Ia tak lagi mengusapnya.
Perempuan tua itu tertidur membawa rindu dan kasih yang tak berujung—
hanya untuk anak semata wayangnya.
Bukittinggi, 30 Desember 2025 (**)
Penulis : Eri Piliang






