Kota Kenangan di Bawah Jam Gadang

- Redaksi

Sabtu, 31 Januari 2026 - 10:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di pelataran Jam Gadang, Bukittinggi—kota sejuk yang dikelilingi Gunung Marapi, Gunung Singgalang, serta perbukitan hijau—seorang laki-laki duduk terdiam. Ia memandang lalu-lalang manusia, berharap di antara keramaian itu akan muncul sosok yang lama dirindukannya.

Seorang wanita cantik yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Senyum manis itu telah lama pergi, kabarnya pun menghilang, ditelan waktu yang terus bergulir dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun. Kini, wanita itu mungkin telah melupakan seluruh kisah cinta yang pernah mereka rajut bersama.

Jam Gadang menjadi saksi bisu pertemuan dan perpisahan terakhir. Di sanalah janji pernah terucap, tangan saling menggenggam, mata saling menatap dengan air mata yang jatuh tanpa suara. Mereka sadar, waktu memaksa keduanya berjalan ke arah yang berbeda. Meski hati enggan melepaskan, hidup menuntut keikhlasan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kini masing-masing telah memiliki kehidupan sendiri, ikatan dan tanggung jawab yang tak bisa diingkari. Namun, rasa itu—entah mengapa—masih tersimpan rapi di lubuk hati terdalam, tak terjamah waktu.

Malam kian larut, udara Bukittinggi semakin dingin. Dengan langkah berat, laki-laki itu bangkit meninggalkan taman kenangan. Ia menyusuri jalan kota, menikmati angin sepoi-sepoi, tawa muda-mudi di bawah rembulan yang redup. Bulan tampak hinggap di ranting cemara, sinarnya pucat—serupa perasaan hatinya yang gundah oleh rindu terlarang.

Ia melewati jalan-jalan yang dahulu mereka lalui bersama. Suara burung, deru kendaraan, hingga hentakan langkah kuda seakan berdendang mengiringi kenangan. Hingga akhirnya, lelaki paruh baya itu tiba di rumah kecilnya di sudut kota.

Malam ini, ia ingin belajar melupakan—bukan menghapus, melainkan mengikhlaskan. Karena yang boleh hadir kini hanyalah rindu dan kenangan pernah bersama, bukan keinginan untuk kembali ke masa yang telah lama berlalu.

Bukittinggi- 30 Januari 2026

Penulis : Eri Piliang

Berita Terkait

Jam Gadang, Saksi yang Tak Pernah Tidur
TUJUAN YANG BELUM SAMPAI
Cinta Yang Tertinggal di Bukittinggi
Irama Penantian di Bawah Jembatan Gantung
Jejak Setia di Embun Subuh
Janji di Bawah Menara Jam Gadang”
Biar Aku Sendiri di Sudut Kota
Senja, Hujan, dan Janji yang Tertinggal

Berita Terkait

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:33 WIB

Jam Gadang, Saksi yang Tak Pernah Tidur

Selasa, 9 Juni 2026 - 06:35 WIB

TUJUAN YANG BELUM SAMPAI

Rabu, 3 Juni 2026 - 22:29 WIB

Cinta Yang Tertinggal di Bukittinggi

Jumat, 1 Mei 2026 - 19:55 WIB

Irama Penantian di Bawah Jembatan Gantung

Kamis, 30 April 2026 - 06:30 WIB

Jejak Setia di Embun Subuh

Berita Terbaru