Ilustrasi foto (pikbest)
Laki-laki tua itu tersenyum, memandang rembulan yang bersinar begitu terang. Cahaya bulan tampak indah di mata, sementara awan-awan berarak perlahan, seakan ikut menari di hembusan angin, menemani rembulan yang setia menerangi malam.
Bukittinggi, 01 Januari 2026
Ia kembali menatap awan yang bergerak pelan. Senyum tipis terukir di wajahnya—senyum yang lahir dari rasa bahagia sederhana, sebab sudah lama ia tak menyaksikan rembulan seindah malam ini.
Ia duduk bersandar pada dinding rumah yang sederhana, berselimutkan kain sarung lusuh, memeluk erat kedua lututnya. Namun senyum itu terhenti sejenak. Pandangannya beralih ke arah pintu rumah. Di dalam, tak ada cahaya terang—hanya sebatang lilin kecil yang setia menyala, menemani sunyi.
Ia sendiri Tanpa siapa pun yang menemani di malam yang indah ini. Malam yang dihiasi cahaya bulan, menembus sela ranting pohon, menerangi alam semesta. Seakan sinar rembulan singgah di ranting cemara yang rimbun, berkilau lembut di antara daun-daunnya.
Entah mengapa, senyumnya perlahan memudar. Wajahnya berubah menjadi lamunan panjang, penuh kerinduan. Ia teringat seseorang… juga bocah kecilnya, yang mungkin kini telah beranjak dewasa. Putri semata wayangnya telah pergi bersama sang ibu—pergi entah ke mana.
Tanpa pesan. Tanpa kata perpisahan. Tak ada senyum terakhir, tak ada lambaian tangan mungil. Tangan kecil yang dulu selalu memeluknya erat setiap kali ia pulang. Kenangan itu kini tersimpan rapi, mengendap dalam relung hati terdalam.
Istri tercinta. Istri yang ia ratukan dalam hidupnya. Ia sayangi sepenuh jiwa dan raga. Demi kebahagiaan keluarga, ia berjuang tanpa mengenal lelah. Tak peduli hujan, petir, atau malam gelap yang harus dilalui—semua dijalani dengan sabar, demi senyum orang-orang yang ia cintai.
Namun kini, apa yang terjadi? Mengapa begitu mudah ia ditinggalkan? Padahal suka dan duka telah dijalani bersama, demi membesarkan buah cinta mereka.
Betapa indah masa itu—canda, tawa, dan keceriaan. Sang putri kecil pun ikut tersenyum manis, membuat dunia terasa utuh.
Namun kebahagiaan itu perlahan direnggut oleh waktu. Zaman terus berubah. Teknologi kian maju.
Kehidupan bergeser, berputar tanpa menunggu siapa pun—seperti jarum jam yang tak pernah berhenti.
Kini, lelaki tua itu begitu merindukan senyum putri kecilnya. Senyum yang dulu begitu menggemaskan.
Di mana engkau kini berada?
Dengan siapa engkau tertawa riang?
Malam semakin larut. Embun mulai turun, membasahi dedaunan dan bunga-bunga yang mulai mengering. Rembulan di balik ranting cemara kian tampak samar, tertutup embun yang turun perlahan.
Begitu pula dirinya. Setitik air mata jatuh dari mata yang mulai lelah. Ia membiarkan air mata itu membasahi pipi dan kain sarung lusuhnya. Gerimis pun turun, seolah langit ikut merasakan pilu yang ia simpan.
Udara semakin dingin. Angin berhembus, membawa awan menutupi rembulan yang tadi bersinar terang. Ia pun berdiri, melangkah perlahan menuju ke dalam rumah.
Malam ini, ia ingin tidur nyenyak. Ia ingin bertemu, meski hanya dalam mimpi, dengan putri semata wayangnya—putri yang telah bertahun-tahun tak ia jumpai.
“Istriku… semoga engkau bahagia dengan keputusanmu. Semoga engkau menemukan kebahagiaan di seberang sana. Aku sadar, aku tak mampu memberimu lebih dari batas kemampuanku.”
Di mana pun engkau berada, apa pun keadaanmu kini, jangan pernah menyalahkan siapa pun. Hanya satu pintaku—izinkan aku melihat putri kecilku sekali saja, di sisa waktu yang masih ada.
Perlahan ia merebahkan tubuhnya, berbantalkan kedua lengannya. Berselimutkan kain sarung usang, ia terlelap dalam tidur yang dalam. Nafasnya teratur, sesekali terdengar lenguhan pelan.
Malam itu, ia tertidur lama—terbuai oleh mimpi, berharap rindu yang tak tersampaikan dapat bertemu di alam yang lain. **
Penulis : Eri Piliang

















