Di ujung malam yang dingin dan sepi, berdiri sebuah rumah sederhana di sudut Kota Bukittinggi—kota yang dikelilingi Gunung Merapi, Gunung Singgalang, dan perbukitan hijau yang memeluknya dalam sunyi.
Bukittinggi, Senin, 25 Januari 2026.
Di teras rumah itu, seorang laki-laki paruh baya tampak asyik menikmati segelas kopi panas dan sepiring kecil camilan sebagai teman setia. Sesekali ia menghela napas panjang, matanya tertuju pada sebuah ponsel jadul yang digenggam erat. Ia menanti bunyi dering—satu suara yang sudah lama dirindukan. Namun setelah sekian lama menunggu, yang terdengar hanyalah sunyi.
Hari berganti hari, bulan berganti tahun. Waktu berlalu tanpa kabar. Anak laki-laki satu-satunya tak pernah memberi berita. Entah bagaimana keadaannya, entah sehat atau tidak. Semua pertanyaan itu berputar-putar di kepala sang ayah, bercampur rindu yang tak pernah usai pada sosok anak yang telah lama meninggalkan kampung halaman—rumah yang penuh kenangan.
Ia meneguk sisa kopi perlahan. Malam semakin larut. Udara Bukittinggi kian dingin, embun turun membasahi tanah dan dedaunan. Angin berhembus pelan, menyibakkan rambutnya yang memutih. Berkali-kali ia memandangi ponsel itu—tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya: tak ada panggilan, tak ada pesan.
Ia ragu untuk menghubungi lebih dulu. Takut mengganggu ketenangan anaknya dan keluarga kecil yang mungkin sedang bahagia di sana.
Kelopak matanya mulai berat. Rasa kantuk tak tertahankan. Gerimis turun perlahan, menambah dingin malam. Ia pun tertidur, bersandar pada dinding rumah yang lapuk, hanya berselimutkan kain sarung tua yang telah dimakan usia.
Seperti tubuhnya, kulitnya telah keriput. Rambut yang dahulu hitam pekat kini memutih, dibiarkan panjang dan tak terurus. Dalam tidurnya yang lelap, suara jangkrik bersahutan, berpadu dengan rintik hujan dan desah angin—seolah menjadi lagu pengantar mimpi.
Di tengah tidur nyenyaknya, harapan itu akhirnya datang. Ponsel jadulnya berdering berkali-kali, memecah kesunyian malam seperti alunan seruling yang lirih. Namun sang ayah tak terjaga. Ia terlelap dalam mimpi indah, terlalu pulas untuk mendengar suara yang selama ini dinantikannya.
Ponsel itu terus berdering… hingga akhirnya diam. Baterainya habis. Sama seperti rindu yang telah menunggu terlalu lama.
Pagi harinya, warga sekitar berkerumun di rumah sederhana itu. Mereka terkejut melihat sang ayah tertidur sambil memeluk erat ponsel jadulnya, bersandar pada dinding yang rapuh. Namun tidur itu bukanlah tidur biasa—ia telah pergi untuk selamanya.
Beberapa hari kemudian, sang anak semata wayang akhirnya tiba. Ia datang bersama istri dan dua anaknya yang masih kecil. Mobil mewah berhenti di depan rumah lama itu. Ia turun dengan langkah gontai. Matanya sembab dan merah, wajahnya kuyu, rambutnya acak-acakan.
Di pusara sang ayah, ia bersujud. Tangisnya pecah, penuh sesal.
Suara yang ia tunda untuk didengar kini telah abadi dalam sunyi.
Penulis : Eri Piliang

















