Photo by, Tebuireng online
Senja di kota kecilku, hari itu begitu syahdu. Kota indah bernama Bukittinggi diguyur hujan deras, seolah langit sedang menumpahkan segala isinya ke bumi. Air turun tanpa henti, mengalir ke titik-titik rendah hingga menggenang, membawa serta bayang-bayang kesedihan yang tak terucap.
Bukittinggi, 15 April 2026.
Di balik sebuah jendela, berdiri seorang wanita muda yang tengah mengandung. Ia bertopang dagu, menatap jauh ke luar, seolah mencari sesuatu yang tak kunjung terlihat. Rambutnya terurai kusut, tak tersisir. Wajahnya polos tanpa riasan, bibirnya kering tanpa sentuhan warna. Namun, di balik semua itu, kecantikannya tetap terpancar—alami, lembut, dan menyentuh hati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Daster batik yang dikenakannya kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Hujan belum juga reda. Angin berhembus pelan, membawa dingin yang meresap hingga ke dalam jiwa.
Entah mengapa, dari sudut matanya yang indah, setitik air mata jatuh perlahan. Mengalir di pipinya, seperti hujan yang tak kunjung berhenti. Ia memandang perutnya yang mulai membuncit, mengelusnya dengan lembut, lalu tersenyum—senyum yang menyimpan luka dan harapan sekaligus.
Jarum jam terus bergerak, menandakan senja akan segera berganti malam. Namun seperti malam-malam sebelumnya, tak ada yang akan menemaninya dalam dingin dan sunyi.
Seseorang yang dahulu ia cintai sepenuh hati telah pergi—berpaling kepada yang lain. Lelaki itu berubah begitu cepat, kembali kepada cinta lamanya, teman masa kecilnya. Ia berselingkuh, mengkhianati cinta yang telah lama terjalin.
Awalnya, ia tak percaya. Desas-desus dari tetangga hanya ia anggap angin lalu. Namun, kabar itu datang silih berganti, seperti suara burung di rimba yang tak henti berkicau. Hingga akhirnya, kenyataan itu tak bisa lagi ia elakkan—orang yang ia cintai telah benar-benar pergi.
Dengan perlahan, ia menutup jendela. Menghapus air mata yang belum kering, meski isak masih tertahan. Tubuhnya direbahkan di tempat tidur, lelah oleh luka yang tak terlihat.
Sebelum matanya terpejam, ia sempat berdoa dalam diam, dari lubuk hati terdalam:
Jika suatu hari kau kembali… dalam keadaan apa pun dirimu, pintu hatiku akan tetap terbuka.
Jika rindumu masih tersisa, datanglah… aku akan menerimamu apa adanya. Cinta ini tak akan pernah luntur. Kembalilah… menemaniku menanti lahirnya buah cinta kita.
Angin malam menyelinap masuk melalui celah jendela. Suara jangkrik bersahutan, berpadu dengan rintik hujan di atas atap, menciptakan irama sendu yang mengantar tidurnya. Dalam lelap yang tak pasti, wanita itu tersenyum samar, rambut hitam panjangnya tergerai lembut.
Pagi pun tiba.
Sayup-sayup terdengar azan dari masjid seberang jalan, merdu membelah sunyi. Kokok ayam bersahutan, menandakan hari baru telah dimulai. Ia terbangun, membuka jendela perlahan. Udara pagi terasa sejuk, langit cerah, dan burung-burung berkicau riang—seolah dunia tak pernah menyimpan duka.
Namun, ingatannya kembali pada mimpi semalam.
Akankah ia benar-benar kembali?
Begitulah cinta… datang dan pergi sesuka hati. Hadir dalam bahagia, lalu menghilang saat luka menyapa.
Meski begitu, ia tetap memilih untuk setia.
Menunggu… tanpa batas waktu.
Karena baginya, hati ini hanya untuk satu nama—dan tak akan pernah ia berikan kepada yang lain.
Penulis : Eri Piliang
Editor : Yopi Herdiansyah






