Ilustrasi gambar siluet (Google)
Bukan aku tak menyayangimu, bukan pula aku menolak cintamu. Namun ketahuilah, hati ini telah tertutup untukmu. Kini biarlah aku sendiri—bersama rembulan malam, semilir angin, dan suara jangkrik yang berdendang di sunyi.
Bukittinggi, 13 April 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jangan lagi berharap padaku. Hati ini telah memilih untuk diam. Biarkan aku hidup di sudut kota ini—kota kecil yang telah mengajarkan arti susah dan senang, yang pernah kita lalui bersama, penuh cerita dan kenangan.
Jangan datang lagi. Jangan ucapkan rindu. Biarlah angin saja yang membawa kabar tentang kita—tentang asmara yang pernah ada, tentang kasih yang kini telah sirna. Hujan turun tiba-tiba, petir menyambar, gemuruh langit seakan menyatu dengan debar di dada.
Kau pergi tanpa relaku. Melangkah anggun bak bidadari, tanpa sepatah kata perpisahan, tanpa senyum yang dulu pernah menghangatkan. Aku terpaku—tak percaya pada kenyataan yang terasa seperti mimpi di siang bolong.
Lidah kelu, dada sesak, hati bergetar seperti langit yang bergemuruh. Aku tertunduk lemah, bersandar pada batang pohon jambu yang renta. Hati ini bertanya—kepada siapa cintamu kini berlabuh? Mengapa harus begini? Sakit ini seakan meremukkan segalanya, tak menyisakan ruang untuk cinta yang telah pergi.
Andai kau kembali…
Jawaban apa yang harus kuberi?
Meski mungkin masih tersisa serpihan rasa, akan kupilih mengubur kisah kita dalam-dalam. Akan kuhapus namamu dari ruang hati yang pernah kau isi.
Hujan semakin deras. Angin berembus lembut. Udara Bukittinggi kian dingin. Rintik hujan di atap menghadirkan irama—kadang lirih, kadang menggema, seperti kenangan yang datang dan pergi.
Dan waktu pun berlalu…
Tanpa kabar, tanpa jejak, hingga suatu hari kau kembali. Hadir di hadapanku, memeluk erat, menangis dalam sesal. Di sela isakmu, kau berbisik, “Maafkan !aku.”
Perlahan, kubelai rambut hitammu. Kutatap matamu yang dulu penuh cinta. Senyum tipis terlukis—bukan karena bahagia, melainkan karena kenangan yang masih tersisa.
Dengan suara pelan, di antara tangismu, aku berkata,
“Maaf… kau datang terlambat. Kehadiranmu tak lagi kuharapkan. Kisah kita telah usai. Jangan sesali yang telah terjadi. Biarkan aku melanjutkan hidupku… tanpamu.”
Kau menatapku tak percaya. Perempuan yang dulu begitu kukagumi—wajahnya bagai rembulan di antara ranting cemara, ditemani bintang-bintang yang berkilau.
Namun kini, semuanya berbeda.
Dengan langkah gontai, kau pergi. Tanpa kata. Tanpa senyum—seperti saat dulu kau meninggalkanku.
Dan aku hanya bisa berdoa,
semoga kau menemukan kembali cinta yang hilang.
Hujan masih turun. Langit masih bergemuruh. Seakan mengucapkan selamat berpisah—untuk selamanya.
Nikmatilah udara sejuk Bukittinggi,
karena di kota ini, cinta pernah hidup…
dan juga belajar untuk melepaskan.
Penulis : Eri Piliang






