Takbir dan Air Mata Penyesalan

- Redaksi

Kamis, 19 Maret 2026 - 03:28 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Bukittinggi, 19 Maret 2026
Air matanya jatuh tanpa mampu dibendung, mengalir deras laksana hujan yang mengguyur bumi. Tangis itu pecah begitu saja ketika lantunan takbir dari masjid di seberang jalan menggema—suara yang begitu syahdu, menembus hingga ke relung hati terdalam.

Laki-laki itu terisak. Dadanya sesak oleh rindu yang tak terucap. Dalam linangan air mata, bayangan kedua orang tuanya hadir begitu nyata—mereka yang kini telah tiada. Setiap gema takbir seolah menjadi panggilan untuk bersimpuh, memohon maaf atas segala salah yang pernah ada.

Dalam khayalnya, ia mendengar suara lembut yang begitu dirindukan: “Bangunlah, anakku… sebelum engkau meminta maaf, kami telah lebih dulu memaafkanmu. Kami tak pernah lelah mendoakanmu.”

Namun, semua itu kini hanya tinggal kenangan. Kenangan yang tak akan pernah bisa diulang. Tak ada lagi tempat untuk bermanja, tak ada lagi tangan renta yang dengan penuh kasih menyuapkan makanan.

Dengan ujung baju lusuh, ia menghapus air matanya perlahan. Kedua tangannya terangkat, menengadah ke langit, memohon kepada Allah agar mengampuni kedua orang tuanya—atas segala khilaf, baik yang disengaja maupun tidak.

Inilah saat ketika rindu dan penyesalan datang bersamaan. Rindu akan kasih sayang yang tak tergantikan, dan sesal karena dahulu tak sempat memberikan kebahagiaan yang layak bagi mereka. Waktu yang dulu terasa panjang, kini seakan berlalu begitu cepat, meninggalkan luka yang dalam.

Kesibukan dunia pernah membuatnya lupa—lupa pada sosok yang telah membesarkannya dengan penuh cinta. Hingga akhirnya, kehilangan itu datang… begitu nyata, begitu menyakitkan, seolah hanya mimpi yang tak ingin dipercaya.

Orang tua tak pernah menuntut banyak. Mereka hanya ingin kehadiran. Namun sering kali, harapan sederhana itu berakhir sia-sia. Mereka berdiri di ambang pintu, memandang jauh ke jalan, menunggu anak yang dirindukan pulang… meski hanya untuk sejenak.

Senja pun merayap perlahan. Udara terasa hangat, dan gema takbir semakin memenuhi angkasa. Di suatu tempat, sepasang orang tua saling berpandangan, tersenyum dalam diam, seakan berkata dalam hati—mungkin inilah akhir perjalanan hidup mereka.

Dari masjid seberang, sayup-sayup terdengar sebuah nasihat: “Seorang ibu mampu merawat lima anaknya… namun lima anak belum tentu mampu merawat satu orang ibu atau ayahnya.”

Laki-laki itu masih terisak, bersandar pada tiang masjid. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya—hanya tangis penyesalan yang terus mengalir, hingga air matanya pun perlahan mengering.

Takbir masih berkumandang, bersahut-sahutan, begitu merdu dan menyentuh jiwa. Bahkan hati yang sekeras batu pun akan luluh mendengarnya.

Dan saat itu, ia sadar…

Bahwa suatu hari nanti, setiap perbuatan kepada orang tua akan kembali terasa. Setiap luka yang pernah diberikan akan menjelma menjadi penyesalan yang tak terobati.

Maka selagi waktu masih ada, pulanglah… Sebelum rindu hanya bisa dipeluk dalam doa.

Penulis : Eri Piliang

Follow WhatsApp Channel jamgadangnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Maulid Nabi Di Hati dan Di perbuatan
Kibarkan Sang Merah Putih, Sebab Perjuangan Belum Selesai
Jam Gadang, Saksi yang Tak Pernah Tidur
TUJUAN YANG BELUM SAMPAI
Cinta Yang Tertinggal di Bukittinggi
Irama Penantian di Bawah Jembatan Gantung
Jejak Setia di Embun Subuh
Janji di Bawah Menara Jam Gadang”

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 14:35 WIB

Maulid Nabi Di Hati dan Di perbuatan

Senin, 17 Agustus 2026 - 19:26 WIB

Kibarkan Sang Merah Putih, Sebab Perjuangan Belum Selesai

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:33 WIB

Jam Gadang, Saksi yang Tak Pernah Tidur

Selasa, 9 Juni 2026 - 06:35 WIB

TUJUAN YANG BELUM SAMPAI

Rabu, 3 Juni 2026 - 22:29 WIB

Cinta Yang Tertinggal di Bukittinggi

Berita Terbaru

Berita

M. Dhanni Hariyona Terpilih Pimpin Golkar Bukittinggi

Senin, 7 Sep 2026 - 15:55 WIB