Photo by, Pinterest
“Biarlah sendiri.
Bukan aku tak lagi menyayangimu, bukan pula aku menolak cintamu.
Namun, hati ini telah tertutup untuk cinta.Biarlah aku sendiri di sudut kota ini, berteman sepi,
tanpa kehadiranmu lagi.”
Bukittinggi, 17 April 2026
Sebuah lagu lama mengalun pelan, lagu yang pernah populer di awal tahun dua ribuan. Liriknya menyentuh hati, seolah mewakili apa yang sedang ia rasakan.
Di dalam bus yang melaju menuju Pulau Jawa, seorang laki-laki duduk termenung. Ia menikmati alunan lagu itu seorang diri.
Penumpang lain telah terlelap dalam tidur yang pulas, sementara ia masih terjaga, ditemani suara mesin yang kadang halus, kadang meraung, kadang tersendat—seperti perasaannya sendiri.
Di dadanya, gemuruh belum juga reda. Ada sedih yang bercampur sesal, menyesakkan, menyakitkan.
Masih terngiang jelas di telinganya, kata-kata yang tak akan pernah ia lupakan:
“Ingat, mulai hari ini dan seterusnya, jangan pernah datang lagi menemuiku. Lupakan aku dalam hidupmu, dalam setiap helaan napasmu. Aku sudah tidak kuat hidup bersamamu. Kau tak mampu membuatku bahagia, bersama anak kita yang masih kecil.”
Setegar apa pun hati seorang laki-laki, air mata tetap akan jatuh di sudut mata yang lelah—terlebih saat pandangannya tertuju pada buah hati yang tengah tertidur.
Perlahan, ia menghampiri bidadari kecilnya. Dengan mata terpejam, ia mencium kening anak itu, memeluknya erat, membelai rambut hitamnya yang lembut. Tanpa sadar, air matanya jatuh di pipi sang anak.
Tak ada kata selamat tinggal.
Tak ada senyum.
Hanya diam yang penuh makna.
Dalam hati, ia berbisik:
“Tunggulah aku. Aku akan kembali, membawa sesuatu yang berharga. Akan kuberikan semua itu untukmu, bidadari kecilku.”
Waktu pun berlalu.
Tahun demi tahun terlewati. Janji yang tak pernah terucap, hanya tersimpan dalam hati, kini menjadi nyata. Doa-doa yang ia panjatkan akhirnya terjawab.
Ia kembali.
Kota kecil yang dulu ia tinggalkan kini telah banyak berubah. Lebih tertata, lebih bersih, namun tetap menyimpan kesejukan yang sama. Hamparan padi menguning, udara segar menyentuh wajah, dan Gunung Merapi masih berdiri gagah memanjakan mata.
Jam Gadang masih setia berdiri, menjadi saksi bisu kisah yang pernah terukir di sana.
Dan akhirnya, saat itu tiba.
Ia bertemu kembali dengan
bidadari kecilnya.
Pelukan hangat pun pecah, melepaskan rindu yang lama terpendam. Tangis dan air mata tak terbendung. Bahagia memenuhi ruang di antara keduanya.
Laki-laki yang dulu kurus dan tampak tak terurus, kini telah berubah menjadi seorang pengusaha sukses. Rumah megah berdiri di sudut kota, bak istana. Semua telah ia siapkan untuk putrinya.
Sang anak pun hidup dalam kebahagiaan.
Namun, di balik kebahagiaan itu, terselip bayangan masa lalu.
Seorang wanita.
Seorang ibu.
Kini ia hidup sederhana di sebuah rumah kontrakan, bekerja sebagai pencuci pakaian dari rumah ke rumah.
Sang anak memandang ayahnya dengan mata penuh harap, seakan memohon agar ibunya bisa kembali.
Namun sang ayah hanya tersenyum kecil, lalu menggeleng pelan.
“Anakku… untuk saat ini, biarlah ayah menjalani hidup seperti ini. Di sudut kota ini, menapaki sisa waktu yang ada. Biarkan ibumu dengan kisah cintanya yang telah berlalu.”
Dan di antara diam yang panjang, tersimpan luka, cinta, dan takdir yang tak lagi bisa dipersatukan.
Penulis : Eri Piliang
Editor : Yopi Herdiansyah

















