Jejak Setia di Embun Subuh

- Redaksi

Kamis, 30 April 2026 - 06:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar, (iStock)

Udara pagi terasa menggigit, dinginnya meresap hingga ke tulang. Embun turun begitu pekat, membungkus alam dalam selimut tipis yang basah, sementara angin berhembus pelan, sepoi-sepoi, seakan berbisik lirih kepada bumi yang masih terlelap.

Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar lantunan azan Subuh dari masjid di seberang jalan. Suaranya menggema, melengkung indah di antara hembusan angin, menyusup ke relung hati, menghadirkan ketenangan yang sukar diungkapkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bukittinggi, 29 April 2026

Irama azan itu begitu syahdu, menyejukkan jiwa yang gersang. Seorang wanita tua yang tengah terlelap dalam mimpi pun terbangun perlahan. Kelopak matanya terbuka, dan dengan suara lirih ia berbisik,
“Rupanya telah tiba waktu Subuh.”

Dengan gerak yang tak lagi gesit, ia berkemas. Tubuh renta itu berusaha bangkit, menyambut panggilan Ilahi. Langkahnya pelan, sedikit terseok, sebab kaki kanannya masih bengkak—cedera lama saat ia terjatuh ketika memikul beban kehidupan.

Usia telah merenggut banyak hal darinya. Rambutnya memutih, kulitnya mengendur. Namun, sisa-sisa keelokan masa muda masih tampak jelas—wajah yang dahulu berseri, kulit yang bersih, rambut panjang tergerai hingga pinggang, serta postur tinggi semampai. Ia pernah menjadi sosok yang begitu memikat, anugerah indah dari Sang Pencipta.

Di masa mudanya, ia pernah jatuh hati pada seorang pria. Lelaki tampan, santun, dan berilmu. Hari-hari mereka dipenuhi kebahagiaan, menjalin kasih di bawah saksi alam—Gunung Merapi dan Gunung Singgalang—yang berdiri megah mengawasi janji setia mereka.

Waktu pun membawa hubungan itu menuju keseriusan. Mereka sepakat melangkah ke jenjang pernikahan. Kedua keluarga telah merestui, hari bahagia pun ditentukan.

Tibalah saat yang dinanti. Rumah dipenuhi tawa dan suka cita. Sanak saudara berkumpul, menyambut dua insan yang hendak dipersatukan dalam ikatan suci.

Sang mempelai pria tampak gagah dalam balutan adat Minangkabau. Sementara mempelai wanita terlihat anggun dan memesona. Mereka tampak begitu serasi—sepasang kekasih yang seolah diciptakan untuk satu sama lain.

Namun takdir berkata lain.

Saat prosesi ijab kabul hendak dimulai, tiba-tiba sang pria merasa pusing. Keringat dingin mengucur deras, wajahnya pucat pasi.

Tubuhnya bergetar, kejang tak terkendali, dan dari sudut bibirnya mengalir liur tanpa henti.
Suasana seketika berubah.

Kegembiraan berganti kepanikan. Semua yang hadir terdiam, bingung, tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya, keluarga segera membawanya ke rumah sakit.

Waktu terasa berjalan lambat.

Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang ICU. Semua mata tertuju padanya, penuh harap yang nyaris putus. Namun dokter hanya tertunduk… lalu menggeleng pelan.

Dunia seakan runtuh dalam sekejap.

Tangisan histeris memecah kesunyian. Sang mempelai wanita meraung pilu, tak percaya pada kenyataan yang begitu kejam. Lelaki yang dicintainya—yang beberapa saat lalu berdiri di sisinya—kini terbujur kaku, tak bernyawa.

Sejak saat itu, ia memegang teguh janji yang pernah mereka ucapkan. Satu hati, satu cinta, hingga maut memisahkan. Ia tak pernah membuka ruang untuk lelaki lain. Cintanya tetap utuh, meski terpisah oleh takdir.

Pagi ini, di usianya yang senja, kenangan itu kembali menyapa.

Lamunannya buyar saat kokok ayam terdengar bersahutan. Setitik air mata jatuh dari mata yang telah renta. Dengan ujung kain sarungnya, ia mengusap perlahan sisa-sisa kesedihan di pipinya.

Lalu, dengan langkah yang masih tertatih, ia melanjutkan perjalanan menuju panggilan Subuh—membawa cinta yang tak pernah benar-benar pergi.

Penulis : Eri Piliang

Editor : Yopi Herdiansyah

Berita Terkait

Jam Gadang, Saksi yang Tak Pernah Tidur
TUJUAN YANG BELUM SAMPAI
Cinta Yang Tertinggal di Bukittinggi
Irama Penantian di Bawah Jembatan Gantung
Janji di Bawah Menara Jam Gadang”
Biar Aku Sendiri di Sudut Kota
Senja, Hujan, dan Janji yang Tertinggal
Senja yang Tak Kembali di Bukittinggi

Berita Terkait

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:33 WIB

Jam Gadang, Saksi yang Tak Pernah Tidur

Selasa, 9 Juni 2026 - 06:35 WIB

TUJUAN YANG BELUM SAMPAI

Rabu, 3 Juni 2026 - 22:29 WIB

Cinta Yang Tertinggal di Bukittinggi

Jumat, 1 Mei 2026 - 19:55 WIB

Irama Penantian di Bawah Jembatan Gantung

Kamis, 30 April 2026 - 06:30 WIB

Jejak Setia di Embun Subuh

Berita Terbaru