Jam Gadang, Saksi yang Tak Pernah Tidur

- Redaksi

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:33 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Bukittinggi, 23 Juni 2026

Aku berdiri setinggi 26 meter, menatap Bukittinggi sejak 1926. Cat putihku sudah berkali-kali diperbarui, tetapi pandanganku ke Pasar Atas tak pernah berubah. Setiap hari aku menyaksikan orang-orang datang dan pergi: berfoto, beristirahat, atau sekadar melepas lelah.

Siang itu, aku melihat seorang anak kecil merengek minta es krim. Jaket merahnya kebesaran, tangannya menunjuk gerobak di pelataran.

“Tulalit… tulalit…”

Tukang es krim memutar lagu khasnya. Anak itu langsung bersorak, “Es krim!”

Sang ibu ragu. “Nanti ya, sayang. Nanti batuk.”

Tapi akhirnya ia mengalah.

Di bawahku, pasangan tua berjalan pelan bergandengan tangan, sesekali tersenyum ke arahku, seolah mengenang masa lalu. Tak jauh dari mereka, anak muda sibuk berfoto, tertawa setiap kali hasilnya kurang pas.

Cinta memang selalu berubah bentuk.

Anak kecil itu akhirnya duduk menikmati es krim di pangkuan ibunya, dunia kecilnya hanya selebar cone yang perlahan mencair.

Tik… tak… tik… tak…

Jarum jamku terus bergerak.

Pelataran ini tak pernah sepi.

“Bali lah, Buk! Karupuak kuah lima ribu!”

Aroma sate, kopi, dan keramaian bercampur di udara dingin Bukittinggi.

Di sudut taman, seorang pria paruh baya berkacamata duduk diam. Dialah arsitek yang pernah merancang tempat ini. Kini ia hanya menatap hasil karyanya yang hidup oleh tawa dan langkah orang-orang.

Pasangan tua tadi perlahan pergi, meninggalkan senyum di antara batu-batu pelataran.

Aku hanya bisa diam.

Aku tak bisa memberi es krim, menahan kepergian, atau berterima kasih. Aku hanya bisa berputar, menghitung waktu semua orang.

Dari sini aku belajar: Bukittinggi tidak pernah tidur karena selalu ada cerita.

Ada yang datang, ada yang kembali, ada yang tertawa, ada yang menangis.

Dan aku akan tetap di sini, menjadi saksi yang tak pernah lelah.

Sampai suatu hari seseorang berkata, “Jam ini sudah tua sekali, ya?”

Karena sejatinya, aku bukan hanya penunjuk waktu.

Aku adalah rumah bagi kenangan yang singgah sebentar lalu pulang.

Penulis : Eri Piliang

Editor : Yopi Herdiansyah

Follow WhatsApp Channel jamgadangnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Maulid Nabi Di Hati dan Di perbuatan
Kibarkan Sang Merah Putih, Sebab Perjuangan Belum Selesai
TUJUAN YANG BELUM SAMPAI
Cinta Yang Tertinggal di Bukittinggi
Irama Penantian di Bawah Jembatan Gantung
Jejak Setia di Embun Subuh
Janji di Bawah Menara Jam Gadang”
Biar Aku Sendiri di Sudut Kota

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 14:35 WIB

Maulid Nabi Di Hati dan Di perbuatan

Senin, 17 Agustus 2026 - 19:26 WIB

Kibarkan Sang Merah Putih, Sebab Perjuangan Belum Selesai

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:33 WIB

Jam Gadang, Saksi yang Tak Pernah Tidur

Selasa, 9 Juni 2026 - 06:35 WIB

TUJUAN YANG BELUM SAMPAI

Rabu, 3 Juni 2026 - 22:29 WIB

Cinta Yang Tertinggal di Bukittinggi

Berita Terbaru

Berita

M. Dhanni Hariyona Terpilih Pimpin Golkar Bukittinggi

Senin, 7 Sep 2026 - 15:55 WIB